cerpen cinta sedih dan romantis terbaru

Sebuah Pengorbanan

Kupandang jalinan bibir yang menghentak senyum itu. Begitu indah. Namun, apa yang aku rasa saat ini sungguh terbalik. Senyum yang dulunya begitu aku rindukan kini menjadi luka yang akan terus terkenang.

Kukenal dirinya dengan nama Aishah, Siti aishah kofifaturrahmah. Putri seorang kyai, yang saat ini tengah gencar membangun sebuah pesantren. Kyai terebut bernama Kyai Abdullah yang telah kondang di sini.  Sedangkan aku, adalah putra mahkota dari seorang buruh serabutan yang sudah akrab dengan kekurangan, hafal dengan berbagai ucapan kasar dan hidupnya terlalu sering dengan hinaan.

Seperti langit dan bumi, aku dan aishah menjalin cinta yang terlarang. Terlebih orangtuaku adalah buruh yang bekerja di bawah pimpinan ayah aisha.

Ironisnya akulah penggagas adanya pesantren tersebut. Tugaskulah untuk mengatur dan menjamin  pendanaan pesantren tersebut, meski berat beban yang aku pikul. Namun, inilah jalan takdirku. Dan kemudian aisha hadir ditengah rentetan takdir hidupku, mengisi hidupku dengan yang namanya asmara. Meski terkadang aku takut menyentuhnya, namun, cinta ini terlalu perkasa untuk memaksaku menyerah kepada sang nasib. Hingga akhirnya, cinta tumbuh diantara kami. Dan begitulah, hingga suatu saat harapan itu hancur karena ayah Aisha tak menyetujui hubungan kami.

Aisha dijodohkan dengan seorang kyai muda, yang dulunya pernah menjadi dambaan hati Aisha. Rasa sakit itu kian bertambah. Seketika aku lemah semangat, keinginanku membantu mendirikan pesantren hampir saja sirna sebelum akhirnya aku sadar, antara mendirikan pesantren dengan cinta tak bisa disatukan dalam derajat keikhlasan. Aku mencoba tegar.

“ Kakak udaha makan? “ tanya fitri adikku.

“ udah alhamdulillah. Fitri udah? “ fitri mengangguk.

Aku tersenyum memandang gadis kecilku. Terlintas dalam pikiranku, bagaimana seandainya Fitri memiliki seorang dambaan hati, yang sejatinya tidak aku setujui. Aku mulai berfikir dari sudut pandang Ayah Aisha. Kyai Abdullah adalah seorang Kyai yang sudah uzur, berusia sekitar 60 tahun. Dan Aishah adalah satu – satunya putri kandung Kyai Abdullah. Jika aku menjadi Kyai Abdullah apa yang aku lakukan?pikirku.

Hari ini begitu cerah, lebih cerah malah untuk ukuran hari di bulan Desember ini. Gadis kecilku berlari – lari menghampiriku. Saat itu pukul 06. 30 pagi. Fitri hendak berangkat kesekolah. Dia telah mengenakan baju Seragamnya yang berwarna biru putih dengan kerudung yang menutupi auratnya. Kami yatim piatu sehingga saat ini aku bukan hanya kakak namun juga Ibu dan ayah bagi nya.

“ Kakak, gak usah nganter Fitri ya. Fitri berani koq berangkat sendiri.” Ucap fitri bersemangat.

“ beneran nih? Nanti kesasar gimana?” ledekku.

Fitri cemberut.

“ ih kakak, Fitri kan udah gede. Masa kesasar” sanggah adikku.

Aku tersenyum sembari mendekatinya lalu memperbaiki lipatan kerahnya yang agak kurang rapi.

“ Fitri, yang rajin ya. Inget, Fitri itu harapan terkhir Kakak, jadilah gadis yang pintar, raih prestasi. Jangan takut bercita – cita. Kakak ingin, Fitri nanti jadi guru atau ustadzah yang bisa membagiakan ilmunya ke orang lain. Tapi untuk itu Fitri harus rajin berangkat, rajin belajar, jaga kesehatan dan jangan lupa doa sama sholat jangan di tinggalin “ aku menghela nafas “ Kalau Kakak sudah nggak ada, Fitri harus janji untuk terus rajin belajar ya. Jadilah anak yang pintar. Biar Almarhum bapak sama Ibu bisa bangga sama Fitri “ lanjutku.

“ Iya kak. Tapi jangan ngomong gitu donk. Fitri jadi ngrasa takut” nada suara Fitri melemah” Kakak tetap sama Fitri, ajarin Fitri tugas, temenin Fitri’

“ Iya – iya. Ayo udah siang tuh. Ntar kesiangan loh”

“ ya kak . Fitri berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum” ucap fitri sambil menyalami tanganku kemudian menciumnya.

“ Wangalaikum salam. Hati – hati di jalan ya”

“ iya kak. Tenang aja”

Kepalaku tiba – tiba terasa penat. Perut terasa di tusuk – tusuk. Melilit perih tak tertahankan. Tubuhku gemetar, rasa takut menghinggapi pikiranku. Akankah aku? Tidak – tidak. Aku harus kuat. Aku punya gadis kecil yang harus aku temani. Fitri kecil yang harus aku jaga.

Aku bergegas menuju kamar. Dengan sempoyongan kulangkahkan kakiku menuju kamar tidurku. Dan hingga akhirnya, semuanya gelap. Tapi menenangkan.

“ kakak “ terdengar suara memanggilku. Namun terdengar sangat lirih

Aku berusaha untuk sadar. Kucoba membuka mata, perlahan cahaya mulai masuk ke dalam mataku. Samar – samar ku lihat fitri berada disampingku, matanya sembab dan sayu. Airmata  bercucuran menelusuri sisian permukaan pipinya.

“ kakak sudah siuman?” tanya Fitri

“ udah, maaf ketiduran?”

“ kakak jangan bohong, kakak terjatuh dipinggir kamar, dan sudah hampir sehari kakak tidak sadarkan diri. Kaya gitu koq ketiduran, Fitri hafal sama kakak, kakak gak mungkin tidur selama ini dan lagi kakak udah dibangunin gak bisa sadar juga. Kakak pingsan “ jelas Fitri.

“ Iya Cerewet. Kecapean “ jawabku.

Kulihat fitri mengambil bungkusan plastik berisi obat. “ Ini obat dari dokter, tadi kakak juga sudah disuntik. Kakak maem dulu ya?” katanya

“ Iya fit” jawabku lemah

tiba – tiba telpon berdering. Ada sms masuk ke HP ku. Dari Aishah.

“Mas, gimana keadaannya? Katanya sakit?”

“ Enggak Papa, Ran. Aku udah baikan. Rani kapan jenguk mas “ balasku

“ lho koq Rani? Siapa Rani?” tanyanya

“ eh gak. Salah kirim. Tek kira Rani. “ segera kumatikan Hpku. Kuhela nafas panjang dalam hati aku berbisik. Maafkan Aku Aisyah.

Semenjak hari itu. Hari – hariku semakin sibuk. Pagi bekerja hingga sore. Kemudian menemui beberapa tokoh penting untuk membangun jaringan pesantren yang nantinya akan aku dirikan. Sebagian aku mintai pendanaan, sebagian untuk aku mintai tanda tangan pelengkap proposal pembangunan dan sebagiannya lagi sekedar silaturahim membangun jaringan.

Berkali – kali SMS dan panggilan yang masuk ke HP ku dari aisyah tak ada satupun yang aku jawab kecuali kemarin sore ketika itu aku memintanya untuk tidak menghubungiku karena aku telah jatuh hati pada seorang Rani. Sejak itulah, ia tak lagi mengirim SMS atau memanggilku. Rasa rindu itu timbul menggebu. Merangsek masuk ke hati ku dan menyesaki dadaku dengan perasaan yang tak menentu. Biarlah. Aku punya pilihan dan inilah pilihan hidupku.

Satu bulan berlalu. Program pembangunan pesantren telah di mulai. Aku menitikkan airmata. Aku berdiri didepan lokasi pembangunan dengan tubuh gemetar. Perjuangan yang selama 1 tahun ini tidak berakhir sia – sia. Pesantren ini berdiri diatas lahan setengah hektar tepat di depan rumah Kyai Abdullah dan rencanannya akan dibuat dengan model panjang dengan 2 lantai. Terlihat beberapa warga masyarakat tengah gotong royong dengan sukarela membangun gedung tersebut. Sebagian mengaduk semen, yang lain membawa adukan tersebut untuk kemudian ditata oleh sang tukang untuk melekatkan bagian – bagian bangunan.

Dari arah rumah Kyai Abdullah. Seorang gadis seumuranku keluar membawa makanan untuk disuguhkan kepada para pekerja. Dia berjalan melewatiku dengan tanpa senyum dan tanpa melihat ke arahku. Sebenci itukah dia? Biarlah. Ini konsekuesni yang harus aku tanggung.

Rasa pening kembali menghantam kepalaku. Aku tahu apa yang akan terjadi sehingga segera aku pulang tanpa pamit segera menuju kerumah. Sampai di rumah. Kupanggil Fitri yang saat itu sedang memasak di dapur.

“ Fit, Fitri “ panggil aku kepada Fitri.

“ Iya kak. “ jawab fitri.

Fitri bergegas sambil berlari menghampiriku. Melihat wajahku yang pucat. Wajah takut jelas tergambar di wajah fitri.

“ Aku mau sholat dulu. Itu nanti ada titipan buat mba Aisyah tolong kasihkan . Tapi entar kalau dia datang kesini ya. “ perintahku.

“ Kakak tidak apa – apa?” tanyanya khawatir.

“ nggak Fit. Kakak sholat dulu ya”

“emm iya kak”

Aku bergegas untuk mengambil wudhu. Aku hendak sholat dhuhur. Setelah memakai pakaian sholatku. Aku bertakbir dengan linangan arimata. Dengan rasa sakit yang sangat, aku terus paksa diriku untuk membaca kalimat – kalimat agung Allah. Al fatihah harus aku ulang berkali – kali karena aku terus terisak. Hingga sampai pada saatnya aku sujud. Aku memohon pada Allah. Jagalah mereka. Dan saat itulah, semua seakan semakin gelap. Sebelum akhirnya sesosok laki – laki dewasa menghampiriku. Dan berkata padaku. “ Sudah waktunya “.

****************************************************************


Aku Aishah.

Satu minggu setelah kematian Rifki. Aku masih tak bisa menahan derita rasa ini. Dia memang telah mencintai orang lain dan meninggalkanku dengan seenaknya. Tapi rasa sayangku kepadanya masih memaksaku untuk merasakan rasa perih saat aku tahu dia telah meninggal. Dunia ini terasa gelap, aku bahkan mulai membenci diriku sendiri. Kenapa dia meninggalkanku? Kenapa? Aku benci rifki, sangat membencinya atas sikapnya menduakanku dan meninggalkanku dengan seenaknya. Tapi betapapun benci, aku tetap masih tak menerima atas kematiannya.

Aku terus mengurung diri di kamar. Entah berapa lama aku menangis sendiri di kamar ini. Aku dikagetkan ketika pintu kamarku diketuk.

“ Nduk, buka nduk. Ada tamu” suara abahku

“ Ya Bah “ jawabku singkat

Segera kusapu airmataku. Mataku yang sembab tetap tak bisa disembunyikan bekas – bekas tangisanku. Kubuka pintu kamar. Ternyata tamuku adalah Fitri. Adik rifki.

“ oh Fitri, “ aku menyalami tangannya” silahkan duduk. “ aku mempersilahkannya duduk.

“ iya kak”

“ ada apa? Ada penting?”

“ nggak kak. Ini Cuma mau nganter kotak ini. Sebelum kak Rifki meninggal dia menyuruhku untuk memberikan ini jika kakak kerumah Fitri. Tapi Fitri tunggu – tunggu kakak tidak dateng kerumah Fitri. Jadi Fitri nganterin ini ke Kakak” jelas Fitri” ini kak “ lanjutnya sambil memberikan kotak kecil berwarna merah.

“ Apa ini?” tanyaku penasaran.

“ Fitri nggak tau kak. Udah dulu kak. Fitri pamitan, mau nyiapin buat acara tahlil ntar malam kebetulan yang terakhir. Jadi rada sibuk sekarang. Fitri Pamit “ ucapnya sambil meyalamiku.

“ assalamu’alaikum “ salam Fitri.

“ wangalaikum salam. Terimakasih ya”

Fitri pergi. Aku sendiri. Aku masuk kekamarku. Ku banting tubuhku diatas kasur. Sambil tengkurap ku buka kotak itu.  Ada selembar kertas dan 1 buah cincin. Ku ambil surat itu. Mataku  tertuju pada awal surat itu.
Teruntuk Bidadariku
Siti Aisya Khofifaturrahmah

Maafkan aku atas sikapku yang pastinya menyakitimu. Mungkin kau juga membenciku dik, aku telah meninggalkanmu dengan sabab yang tak bisa kau terima. Aku terima itu. Dan sekarang, saat kau baca surat ini, berarti aku sudah tak lagi ada di dunia ini. Dan harapan terakhirku adalah kau akan memaafkanku. Surat ini akan menjelaskan segalanya. Segala sikapku selama ini.

Kau tahu betapa inginnya aku membantu adanya pesantren di desa kita. Aku ingin membantu abahmu untuk berdakwah di desa kita dan semoga dapat meluas ke luar desa. Dan hampir saja impian itu hancur karena ego ku saat aku tahu kau hendak di jodohkan dengan pemuda lain. Kau tahu? Sakit banget, sedih, dan terluka. Semua itu menjadi satu dalam deritaku.

Namun, setelah kurenungkan. Inilah ujian keikhlasan. Apakah aku membantu pembangunan pesantren karena kamu atau karena Allah? Dan karena itulah aku berfikir. Alasan perjodohanmu adalah karena Abahmu menginginkan yang terbaik buatmu dan mampu meneruskan perjuangan dakwahnya. Sehingga siapapum suamimu nanti haruslah mempu menggantikan peran abahmu. Beliau, memandang aku tak cukup pantas untuk itu. Aku tahu seberapa kemampuanku, aku memang nol soal agama terlebih lagi aku memang tak ingin menjadi kyai, ustadz atau sebutan lain. Aku tak sangup menanggung amanah tersebut. Aku takut di agungkan, di puji, di muliakan melebihi keinginanku.

Aku tahu, kau takan mau dijodohkan dan akan bertahan denganku. Oleh karena itulah aku menjalin hubungan dengan Rani, kau tahu siapa Rani? Rani itu bukan siapa – siapa dan memang tak pernah ada. Rani adalah tokoh yang aku buat agar kau berfikir aku menduakanmu. Agar kau melepasku meski kau akan membenciku nantinya. Tapi, aku ingin agar nantinya pesantren dipimpin oleh seorang ahli agama. Karena jika itu terjadi maka pesantren akan maju. Dan apa artinya satu atau dua hati yang terluka demi masa depan pesantren, masyarakat desa kita bahkan mungkin lebih luas. Aku relakan rasa sakit ini demi pesantren kita. Demi kebahagiaanmu juga.

Jika kau mencintaiku, aku mohon tersenyumlah setelah ini. Jika kau ingin aku tenang di alam akhirat. Berjanjilah untuk bangkit dari kenangan pahit ini. Aku  yakin tidak akan ada yang sia – sia dari sebuah pengorbanan yang dilandaskan pada kecintaan kita pada Allah. Maukah kau berjanji?

Maafkan aku yang tak bisa menemanimu. Cincin yang aku sertakan bersama surat ini adalah kenangan dariku. Cincin yang dulunya ingin aku berikan pada saat kita menikah. Aku harap cincin itu akan terus mengingatkanmu pada janjimu untuk terus berjuang demi pesantren kita. Menikahlah dengan pilihan ayahmu.

Aku minta tolong. Fitri kini sendiri. Ia yatim piatu. Jagalah ia, anggap dia adik kandungmu. Aku punya tabungan di bank untuk pendidikan Fitri, kelola uang tersebut untuk membuka usaha kemudian latih Fitri untuk mandiri. Didiklah dia agar nantinya Ia menjadi gadis solehah sepertimu.

Mungkin ini saat terakhir dari kata – kataku. Maafkan aku atas rasa sakit yang kini kau rasakan. Jaga kesehatan. Jangan pernah terpuruk, tersenyumlah. Sedihmu, sedihku, sakitmu sakitku, dan bahagiamu adalah bahagiaku. Dan ijinkan aku mengakhiri kata – kataku dengan

“ AKU MENCINTAIMU HINGGA UJUNG HAYATKU “

                                                                               Yang selalu mencintaimu


                                                                                               Muhammad Rifki

ditulis oleh :  muannas hafidz