Contoh Cerpen Tentang Cinta Sejati Dalam Cinta Segitiga

Cinta bukan tentang rasa ingin memiliki, bukan tentang ego untuk menguasai pasangan orang yang kita cintai, namun cinta adalah tentang bagaimana kita berkorban demi kebahagiaan orang yang kita cintai meskipun harus kehilangan orang yang kita cintai.  

Contoh cerpen cinta dalam cerpen cinta segitiga ini  akan mengisahkan tentang cerita cinta syarat pengorbanan. Cerpen cinta yang akan anda baca ini, akan mengajak anda untuk menyelami kedalaman makna cinta sejati yang dengan penuh kerelaan mampu mengikhlaskan orang yang dia cintai bersanding dengan orang lain bahkan sahabatnya sendiri. Pada akhir cerita apakah pengorbanannya akan mendapatkan cinta? mari kita simak.
bukan soal memiliki tapi soal memberi, 
bukan soal dicintai tapi soal mencintai, 
bukan soal menguasai tapi sekedar mengerti arti pengorbanan.

Cerpen Cinta  | Syahadat cinta sebuah kesaksian cinta


UIN syarif hidayatullah telah 4 tahun menjadi almameterku, di universitas ini pula aku menimba pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu khususnya tentang kependidikan. Kini aku adalah seorang pemuda miskin nan hina yang  berhasil menyandang gelar sarjana pendidikan islam dan dibelakang namaku tersemat gelar S.PdI lengkapnya Assyifa al Kahfi S.PdI.

    Perpisahan selalu menjadi akhir yang dramatis dari sebuah kenangan. Airmataku menetes menelusuri  sisian permukaan pipiku yang kusam.

Disini, aku berjuang menuntut ilmu dengan hanya modal keyakinan,
Disini aku sempat merasakan menjadi seorang pengamen jalanan demi menopang hidupku selama di jakarta.
Disini aku rela hanya makan sehari sekali bahkan tak makan sama sekali selama beberapa hari demi rupiah yang akan aku gunakan untuk membeli sebuah buku.
Disini pula aku harus menahan kerinduanku pada orang – orang yang aku cintai.

Tepat di depan gerbang kampus ini, kenangan itu tergambar jelas dimataku. Pengorbanan dan doa – doa orang yang menyayangiku kini mewujud dalam kenyataan.

        “ Syif, kamu menangis ? “ jantungku hampir saja melompat dari dadaku ketika suara seorang gadis menyapaku.

    Aku cepat menunduk sembari menghapus airamataku. Meski sebenarnya, bekas tangisan takkan hilang hanya dengan menghapus airmata.

 “ Nggak koq “ jawabku.
Annisa tersenyum. “ Udah jangan bohong, tuh lihat matamu sembab “

    “ Enggak lah. Kemasukan debu tadi “
Annisa kembali tersenyum. Senyum terindah yang pernah aku lihat.

    “ Kamu sedih ya ninggalin kampus kita?” tanyanya. Aku hanya mengangguk.

    “ Aku tahu latar belakangmu, sifatmu, dan bagaimana perjuanganmu yang aku akui sangat berat. Dan kampus ini menjadi simbol dari terwujudnya impian mu dan harapan orang – orang yang kamu sayangi terutama orangtuamu.” Ia menghela nafas panjang” di tempat ini pula, aku mengenalmu sebagai sahabatku yang terbaik, yang menjadi inspirasiku selama ini. Aku....” kata  - katanya terhenti.

    “ aku apa? Aku bukan inspirasi. Kamu terlalu melebih – lebihkan” jawabku.

    “ emmmm,,,,, sebelum kita berpisah boleh aku jujur ?” tanyanya padaku dengan wajah penuh keraguan.

    “ iya boleh” jawabku singkat.

    “ aku tahu kau telah memiliki seseorang yang kamu cinta, yang kamu harapkan untuk menjadi pendampingmu kelak. Tapi jujur, maaf, aku mencintaimu”

    Seperti ada kilatan petir yang memekakan telingaku. Aku hampir – hampir tak percaya dengan apa yang aku dengar. Tak mungkin, sungguh tak mungkin seorang gadis setipe Annisa mencintaiku. Aku bagaikan pungguk dan dia bagaikan rembulan purnama yang hampir sempurna adanya. Sepertinya belum pulih benar aku dari rasa sedih bercampur bahagia ketika aku harus meninggalkan kampus ini, kini ditambah berita yang aku sendiri tak tahu harus digambarkan dengan rasa apa, sedihkah? Bahagia? Malu? Tapi yang jelas aku tak percaya. Tak mungkin percaya.

    “ jangan bercanda kamu”

    “ aku  tak pernah bercanda untuk urusan cinta. Baru kali ini aku mengungkapkan cinta pada seorang pria.” Wajah Annisa tiba – tiba memerah dengan sedikit tanda kemarahan. Baru aku menyadari, Annisa serius.

    Aku berfikir sejenak. Tak bisa aku pungkiri bahwa aku merasa bahagia atas kejujuran Annisa. Bagaimanapun, dicintai oleh seorang gadis semacam Annisa merupakan sebuah kehormatan dan kebahagiaan tersendiri buat aku. Namun, janji setiaku pada Aini, mengukuhkan pendirianku pada kesetiaan cintaku pada Aini. Andai saja aku tak menngenal dan mencintai Aini terlebih dahulu sudah barang tentu cinta ini akan aku serahkan pada Annisa.

    Kami berdua terdiam. Aku terhanyut pada kebimbangan. Bukan masalah siapa yang lebih aku cintai, karena hingga detik ini, aku hanya mencintai Aini. Sementara Annisa, ia hanya aku anggap sebagai sahabat, sahabat terbaikku yang memang aku kagumi. Ya, sebatas kagum.

    Suara kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalanan seakan tak terdengar. Para pejalan kaki yang melangkah di samping kamipun tak bisa menyentuh alam sadar kami.  kami hanya mampu mendengarkan suara hati kami masing – masing.

Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya aku berkata.

    “ Maaf, seperti yang kau tahu. Aku memiliki cinta yang lain. Aku masih setia pada perasaanku atas Aini. Aku tak bisa menghianati janji setiaku pada Aini. Aku harap kau mengerti “ jawaku penuh kemantapan.

Annisa tersenyum. Ekspresi yang sebenarnya jauh dari perkiraanku.

    “ Aku tahu, kau akan menjawab seperti itu. Aku mengenalmu selama 4 tahun ini. Dan waktu yang selama itu, cukup bagiku mengenalmu sebagai sosok yang setia. Dan karena itulah aku meletakan cintaku di hatimu. Meskipun cinta itu tak kau ambil tapi setidaknya, aku telah meletakan cinta pada sesosok pemuda yang baik seperti mu. Tapi aku yakin. Jika kita berjodoh, kita akan bertemu. Dan aku akan menunggumu, sampai ku dapatkan undangan pernikahanmu. Dan itulah saat dimana aku harus berhenti mencintaimu. Itulah syahadat cintaku untukmu “ jelasnya .

Annisa melirik jam tangan. Kemudian ia berkata “ eh, aku cabut dulu ya, ayah udah nunggu di rumah” ia tersenyum. Sampai kapanpun. Tetaplah menjadi Rafi Al kahfi yang aku kenal sekarang aku tunggu berita keberhasilanmu nanti. I love U” katanya sembari berlari tanpa salam tanpa menungu respon dariku. Aku sadar, kepergiaannya sambil berlari membawa airmata yang menetes dan jatuh ke atas jalan ini. Aku hanya bisa berbisik dalam hati “ maafkan aku nis “.

    “ selamat tinggal kampusku tercinta” aku membalikan badanku “ tunggulah aku ibu, aku akan membawa kebangaan kepadamu, dan Aini, Impian cinta kita akan terwujud. Tunggu aku “

    Perjalanan pulangku terasa berbeda kali ini, apakah karena kejujuran Annisa tadi atau kah aku yang sudah tak sabar untuk bertemu Ibuku dan Aini. Ah, aku tak seharusnya memikirkan Annisa. Dia bukan jodohku. Jodohku adalah Aini, yang akan aku pinang segera setelah aku sampai ke rumah. Bersama Bis antar provinsi Sinar jaya, penantianku mendekati kenyataan.

    Pukul 04. 00 pagi aku sampai ke rumah. Kutatap rumah itu, rumah ini masih sama seperti dahulu. Papan bambu dengan cat mengelupas, atap seng berkarat, pintu triplek kusam dan lantai semen yang sudah pecah – pecah. Aku berjanji dalam hati, sebentar lagi, rumah ini akan ku rubah menjadi rumah terindah yang pernah aku lihat.

    Kuketuk Pintu rumah sambil kuucapkan salam. Tak perlu menunggu waktu lama. Suara khas ibuku terdengar saat beliau membalas salamku. “ Wa’alaikum salam” kulihat ibuku berlari dengan masih menggunakan mukenanya.

    Kucium tangannya dengan penuh ta’dzim. Ibuku menitikan arimata.

“ kamu sudah jadi sarjana Fi?” tanya ibu

“ nggih bu.”

“ Alhamdulillah ya Allah. “ ibu langsung sujud syukur sambil terus menangis bahagia. Dari arah belakang adik ku satu – satunya muncul dari arah dapur. Wajah kantuknya masih kentara.

“ Mas Rafi?”

“ dalem adikku yang gendut “

“ Ya Allah mas “ kulihat ibu bangkit dari sujud syukurnya. Sedangkan adikku, Rani bergegas menghampiriku kemudian mencium tanganku.

“ kakak koq kurus banget” tanya rani padaku

“ tapi tetep cakep kan?” jawabku seenaknya.

Ibu pergi menuju dapur. Aku duduk di kursi kayu tua yang sudah mulai lapuk digerogoti rayap. Kupandangi sejenak rumah ini. Selama empat tahun ini. Aku memang jarang pulang. Hanya setahun sekali dan itupun paling satu hari.

Peraturan di asramaku tidak membolehkan aku untuk memegang HP atau menghubungi salah satu sanak saudara. Kemandirian benar – benar di latih disana. Aku cukup beruntung karena mendapatkan tempat asrama di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an tanpa membayar alias gratis. Namun, tetap harus ada bayaran untuk mengganti kemurahan itu. Aku menjadi kodim atau pembantu di rumah kyai. Tugasku adalah masak, bersih – bersih dan menjadi orang suruhan disana.

Di sela – sela kesibukanku, aku kadang menjadi pengamen ketika tidak ada jadwal kuliah atau jadwal hafalan qur’an. Kadang juga aku harus menjadi kernet angkot untuk mendapatkan sedikit uang receh.

Namun, Allah memudahkan semuanya. Aku bisa hafalan Al – quran 30 juz selama 4 tahun dengan sedikit pengetahuan tentang Qira’ah sabaah. Disana pula aku diajari membaca alqur’an dengan tilawatil qur’an melalui berbagi tausyih seperti nada qoror, hijaz, nahawan dan lainnya.

Namun, setiap perjuangan pasti ada kendala dan rintangan. 2 tahun di jakarta, hampir saja aku mati kelaparan, tipes ku kambuh, dan beruntung aku dibantu oleh Annisa, semua biaya rumah sakitku di tanggung olehnya. Keluargaku pun tak pernah diberi tahu karena takut akan menambah beban orangtuaku.  pernah pula aku hampir saja dikeluarkan dari universitas karena tak  sanggup membayar biaya registrasi, dan siapa lagi kalau bukan Annisa yang menolongku. Annisa bisa dibilang penolongku setiap aku terkena musibah. Ia begitu baik dan tulus dalam membantuku.

Aku jadi teringat dengan Annisa, terlebih tentang kejujuran Annisa saat perpisahan kemarin sore. Dia terlalu baik dan sangat berjasa bagiku. Berat rasanya harus menolak cintanya. namun, apa daya tangan tak sampai. Aku telah mencintai orang lain.

“ Ini fi, minum teh dulu “ aku rindu teh buatan ibu. Selalu rindu akan makanan hasil racikan tangannya.

Kami mngobrol tentang banyak hal bercerita tentang banyak hal dan menanyakan banyak hal.

Burung berkicau menyambut sang mentari, daun daun terbangun dengan permukaan penuh embun berair. Dari arah timur, cahaya sang mentari menyeruak seperti sesepuh yang berjalan pelan menyusuri  sisian bumi. Suasana pedesaan yang rindang, tenang dan menenangkan. Kuseruput secangkir teh buatan ibu. Nikmat sekali.

Bayanganku mengawang pada sosok Aini yang akan segera kutemui. Rasa rinduku sudah tak tertahankan. Dia adalah gadis pertama yang mampu menaklukan hatiku. Ibarat kata, cinta kami adalah bunga yang tak pernah mengenal musim. Akan tumbuh dalam duka atau suka, canda atau tangis air mata, senyum atau derita.

Aku tak sabar untuk mengajaknya bersanding diatas altar suci pernikahan. Dengaan baju khas kebaya jawa dan aku memakai setelan jas warna hitam dengan hem putih memakai peci hitam. Dan saat itu akan tiba dimana aku akan mengucapkan dengan lantang kalimat “ Aku terima nikahnya, Nur Aini binti Samsulhadi dengan mas kawin berupa uang 1 juta rupiah dan seperangkat alat sholat. Tunai.
Ah benar – benar impian yang sangat indah.

“ o, iya kak ini ada titipan dari mba Aini “ kata Rani sambil memberikan sebuah kertas berwarna merah muda dengan gambar yang sangat indah. Terlalu indah malah untuk saat ini.
************************************************************************

    Dua hari telah berlalu semenjak aku menerima surat itu. Dan kini aku tengah berada dalam hiruk pikuk pesta pernikahan.

Suara alunan gending jawa dengan diiringi oleh sang pranata acara yang memakai pakaian khas jawa menambah khidmah acara. Para tamu undangan telah duduk ditempatnya masing – masing. Photografer sedang memilih angle of view yang tepat untuk mengabadikan pernikahan ini. Penghulu duduk diseberang meja pasangan pengantin. Dan moment itu tiba ketika penghulu kemudian mengatakan “  Ankahtuka wa Zawwajtuka Makhtubataka Nur Aini binti Samsul Hadi bi mahri miati alfin rupiah hallah “. Aku gemetar mendengar kalimat tersebut “Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu puteriku Nur Aini binti Samsul hadi dengan mahar seratus ribu rupiah. Dibayar tunai “ dan selanjutnya giliranku menjawab pertanyaan tersebut “Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq. Aku terima pernikahan dan perkawinannya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah” akhirnya. Aku resmi menjadi suami Aini.

    “ Mas, dipanggil tuh mas” aku terperanjat, terbangun dari lamunan mustahilku. “ mas nglamun ya, itu dipanggil dari tadi koq nggak denger “ kata Rani.

    “ iya siapa?” tanyaku.

    “ itu “ Rani menunjuk ke arah operator sound sistem. Disana ada seorang wanita paruh baya yang memakai kebaya putih tengah menunggu seseorang. Dan yang sedang di tunggu adalah aku. Dia adalah Kakak aini.

    Aku bergegas menuju sumber suara untuk menemui Mba Rita. 
    “ Ada apa mba?” tanyaku.

    “ tolong kamu bacain Al – Qur’an.Yang seharusnya bertugas membaca Al – Qur’an berhalangan hadir karena urusan mendadak yang sangat penting.” Jelas mba Rita.

    Gila aku tak bisa membaca Al –qur’an di saat seperti ini. Aku tak mungkin kuat.

    “ cari yang lain aja mba.” Jawabku.

    “ aku dah nyari Rafi. Udah mepet waktunya gak ada yang bisa. Tolonglah, sekali ini. Aku tahu berat, tapi setidaknya, demi kebahagiaan Aini “

Aku berfikir sesat. Mungkin ada benarnya, biar bagaimanapun. Aku harus tetap tegar, dan mungkin ini adalah kesempatan terakhirku melakukan sesuatu untuk Aini, meskipun sangat berat aku rasa.

    “ Iya mba. Insya Allah aku mau “
    “ mau pakai Al – quran”
    “ nggak usah mba “

Dan saat itu tiba. Aku dipanggil oleh pembawa acara untuk mebacakan Al – quran. Langkahku gontai tapi kupaksakan untuk terlihat normal.

Melihat mereka bersanding sekan melihat penderitaan yang sudah aku rakasan dari dua hari yang lalu. Aku duduk disamping mempelai pria dan menghadap mempelai wanita. Inikah takdirku? Orang yang aku cintai, kini berada tepat didepanku dalam satu ritual pernikahan namun sayangnya bukan aku sang mempelai pria. Tapi sahabatku sendiri, Andri.

    Aini beberapa menit lagi akan menikah dengan Andri. Selama itu pula perasaanku kian tak bisa diungkapkan. Pedih menjulang rasa, teranyam sedih yang tak terkira. Seperti ditusuk dengan pisau berkarat. Inikah takdirku? Aini yang aku cinta, yang aku pertahankan kesetiaanku untuknya kini akan menjadi milik orang lain.

    Ya, Aini telah berpaling untuk mencintai orang lain.

    Sejak satu tahun yang lalu, di saat aku fokus pada skripsiku untuk mencari berbagi reverensi dan kadang harus survei ke lapangan. Aku memang sangat jarang berkomunikasi dengan Aini. Kesibukanku menjadi pembantu di Pondok Pesantren dan lagi menyusun skripsi akhir membuat aku tak bisa leluasa berkomunikasi dengan Aini. Dan di saat itulah, Aini tanpa sengaja dekat dengan Andri, sahabat masa kecilku. Aini kerap kali mencurahkan perasaannya kepada Andri. Seringkali tentang Aku, tentang kerinduannya padaku, tentang rasa kesepian karena tak bisa lagi dekat denganku dan hal lain tentang kehidupannya.

    Kedekatan mereka semakin menjadi – jadi hingga beberapa bulan kemarin. Kata orang witing tresno jalaran soko kulino. Cinta akan tumbuh dari semakin seringnya bertemu. Mereka saling jatuh cinta, dan di belakangku mereka menjalin kasih. Aku ingin marah, ingin benci, ingin memaki mereka. Namun, logika tak kuasa melakukan itu. Semua ini salahku, andai saja aku lebih sering ada di dekat Aini, mungkin tak akan terjadi tragedi ini. Aini tetaplah manusia biasa yang butuh kasih sayang. Dan karenanya, ia berpaling dariku yang tak pernah bisa menemaninya saat ia kesepian, tak bisa menghiburnya saat ia sedih dan tak bisa meyakinkannya saat ia sedang bimbang. Aku yang salah.

    Aku menghela nafas panjang sebelum membaca Al qur’an. Yang aku baca adalah surah Ar rum Ayat 20  - 22 yang artinya.

“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.”

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Suaraku sedikit gemetar. Dengan awalan nada bayati qoror kemudian aku variasikan dengan nada nada tinggi setinggak hijaz, jawabbul jawab dll. Hingga pada saatnya, Aku menangis, rasa sakit yang terlalu menyiksa ini membuatku menangis meski hanya beberapa bulir air mata..namun, dalam hati, air mata hati bercucuran memenuhi relung hati yang kini terkena sayatan luka cinta. Sekuat apapun aku menahan, rasa sakit ini tetap membekas di suaraku. Suara serak bernada sedih membuat beberapa orang ikut menangis, termasuk Andri dan Aini. Entah apa yang mereka tangiskan. Tapi kulihat airmata mereka menetes lebih deras dariku.

Pembacaan Al qur’an selesa. Setelah salam aku segera beranjak dari tempat dudukku. Sebelum kemudian, Andri menjamah lengan bajuku dan berbisik “ Maafkan aku “.

    Prosesi inti pernikahan di mulai. Dan inilah, saat – saat terburuk dalam hidupku. Setiap kata yang Andri ucapkan benar – benar memancing rasa sakitku. Seharusnya bukan Andri yang mengenakan pakaian itu, bukan dia yang bersalaman dengan penghulu sambil menucapkan Ijab Qobul. Seharusnya surat undangan yang aku terima dua hari yang lalu, tertulis mempelai pria adalah namaku bukan Andri.

    Aku masih sering mengurung diri di kamar. Ternyata aku selemah ini. Semangatku seolah hilang, sirna di bakar oleh pernikahan itu. Aini lah alasan utamaku untuk terus berjuang di Jakarta menuntut  ilmu disana meraih gelar sarjana. Untuknya, aku telah perjuangkan segala yang aku bisa, untuknya aku rela kelaparan, kedinginan, diserbu rasa letih bahkan diremukkan oleh rasa sakit karena terlalu memaksakan tubuh. Perjuanganku sia – sia.

    “ Mas “ sebuah suara terdengar dari balik pintu kamarku. Suara Rani. Aku malas membuka pintu itu. Namun, kucoba tegakkan badan,  bangkit dari tidurku lalu berjalan menuju pintu. Kubuka pintu kamar dan Rani telah berada di hadapaku dengan memegang sepucuk surat lagi.

    “ undangan pernikahan siapa lagi ?”tanyaku agak sinis.

    ‘ bukan undangan pernikahan, tapi undangan ulangtahun sepertinya “

    Kuterima surat ungangan itu. Disitu tertulis kalimat – kalimat yang sangat ku hafal gaya tulisannya. Surat ini dari Annisa.

    “ untuk Rafi
Rafi, aku akan berulangtahun minggu depan aku harap kamu hadir. Ulangtahunku takan lengkap tanpamu. Ajak juga keluargamu, biaya perjalanan aku yang tanggung. Kamu akan dijemput pada hari rebu mendatang oleh supirku. Dan ingatlah kesaksian cintaku pada saat terakhir kita ketemu. Aku masih mencintaimu dan terlebih aku merindukanmu.

Dari yang mengagumimu

Annisa Aulia Safitri